Bakteri Resisten Merkuri pada Feses Anak di Desa Talawaan


IDENTIFIKASI BAKTERI RESISTEN MERKURI PADA FESES ANAK  DI DESA TALAWAAN KECAMATAN TALAWAAN KABUPATEN MINAHASA UTARA

PROPOSAL

KARYA TULIS ILMIAH SARJANA

OLEH

KRISTONI JENSEN MALA

060112048

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SAM RATULANGI

2010


BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ekonomi di Indonesia menitik – beratkan pada pembangunan sektor industri. Di satu sisi, pembangunan akan meningkatkan kualitas hidup manusia dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Di sisi lain, pembangunan juga bisa menurunkan kesehatan masyarakat dikarenakan pencemaran yang berasal dari limbah industri dan rumah tangga. (Widokawati,dkk. 2008)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan bahan tambang emas yang banyak terdapat pada batuan di gunung ataupun pasir di sungai.  Kegiatan eksplorasi penambangan emas semakin banyak dilakukan baik secara perorangan maupun berkelompok.  Keberadaan bijih emas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya sebagai sumber penghasilan sehingga berkembanglah kegiatan pertambangan emas rakyat yang dikenal dengan istilah Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan paling banyak PETI ini mengunakan merkuri (Hg) sebagai media pengikat emas. (KLH, 2008)

Pencemaran logam berat merkuri (Hg) pada tanah dan air sangat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Senyawa merkuri dalam bentuk Hg(II) dapat terikat pada residu sistein protein/enzim manusia/binatang sehingga protein/enzim kehilangan aktivitasnya. Selain Hg(II), senyawa merkuri paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah senyawa organomerkuri, khususnya metilmerkuri dan fenilmerkuri. Senyawa ini bersifat sangat reaktif dan mempunyai mobilitas tinggi dibanding dengan Hg(O) atau Hg(II). Hal ini disebabkan  gastrointestine manusia dapat menyerap sekitar 95% senyawa metilmerkuri, dan senyawa ini juga dapat menyerang syaraf manusia melalui peredaran darah. (Rugh et al, 2000 Dikutip Nofiani dan Guzrisal, 2004)

Merkuri dapat diekskresikan dari tubuh melalui usus, ginjal, kelenjar mamae, kelenjar saliva. Sebagian besar diekskresikan melalui feses dan urin. Ekskresi merkuri organik sebagian besar terjadi dengan ekskresi feses daripada ekskresi urin. (Widokawati,dkk. 2008),

Desa Talawaan merupakan desa yang berbatasan langsung dengan aktifitas pertambangan emas Desa Tatelu yang dalam proses pengolahannya, para penambang menggunakan merkuri sebagai bahan pengikat emas (amalgam), dan proses pertambangan telah berlangsung sejak 1996. Pada penelitian oleh Alenaung (2006) mendapatkan bahwa konsentrasi Hg pada 16 sumur gali sebagai sumber air minum masyarakat Desa Talawaan 13 diantaranya berada di atas Nilai Ambang Batas (NAB). (Alenaung, 2006)

Dengan demikian, asumsi kami yaitu jika masyarakat tersebut mengkonsumsi air minum yang mengandung merkuri di atas NAB selama bertahun – tahun, namun beberapa mikroorganisme di dalam usus juga secara perlahan akan beradaptasi untuk bertahan hidup pada lingkungan yang mengandung merkuri pada usus manusia. Hal ini diperkuat lagi dengan hasil penelitian oleh Liebert,dkk (1997) bahwa terdapat gen resisten merkuri pada bakteri feses manusia dan primata lainnya. Untuk itu kami tertarik untuk meneliti bakteri resisten merkuri pada feses anak – anak di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian yaitu sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat bakteri resisten merkuri pada feses anak – anak di Desa Talawaan.
  2. Bagaimana keragaman populasi bakteri resisten Hg pada feses anak – anak di Desa Talawaan ?

1.3 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui adanya bakteri yang dapat hidup pada kondisi lingkungan yang telah tercemar merkuri pada feses anak – anak di Desa Talawaan
  2. Untuk mengidentifikasi adanya bakteri  resisten merkuri di feses anak – anak  di Desa Talawaan

1.4 Manfaat Penelitian

  1. Dapat diketahui komunitas bakteri resisten merkuri pada feses
  2. Bakteri yang telah teridentifikasi, nantinya dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk detoksifikasi merkuri sehingga nantinya dapat mengurangi efek berbahaya pada penggunaan merkuri dalam pertambangan.
  3. Hasil penelitian ini dapat menambah bahan pustka dan sebagai masukan bagi peneliti selanjutnya.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Logam Berat Merkuri

2.1.1 Pengertian dan Toksisitas Merkuri

Merkuri (Hg) adalah logam berat berbentuk cair, berwarna putih perak, serta mudah menguap pada suhu ruangan. Hg akan memadat pada tekanan 7.640 Atm. Merkuri (Hg) dapat larut dalam asam sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa. Hg memiliki nomor atom 80, berat atom 200,59 g/mol, titik lebur -38,90 C. dan titik didih 356,60 C. Hg mudah membentuk alloy amalgama dengan logam lainnya, seperti emas (Au), perak (Ag), platinum (Pt), dan tin (Sn). (Widowati, 2008)

Palar (1994), menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya racun dari merkuri yang terlarut dalam badan perairan.

  1. Bentuk merkuri dalam perairan, apakah merkuri tersebut dalam bentuk

organik/anorganik. Senyawa organik yang dapat larut dalam badan perairan akan dapat mudah diserap oleh biota perairan.

  1. Keberadaan logam-logam lain, adanya logam-logam lain dalam badan perairan dapat menyebabkan merkuri  menjadi sinergis  atau sebaliknya menjadi antagonis bila telah membentuk suatu ikatan.
  2. Fisiologis dari biota (organisme), proses fisiologis yang  terjadi pada setiap biota mempengaruhi tingkat merkuri yang menumpuk (akumulasi) dalam tubuh biota perairan. Besar kecilnya merkuri yang terkandung dalam tubuh akan mempengaruhi daya racun yang ditimbulkan oleh logam berat. Pada biota tertentu mempunyai kemampuan  untuk menetralisasi (mentoleransi) merkuri tertentu sampai pada konsentrasi tertentu pula.

2.1.2 Sifat dan Bentuk – Bentuk Merkuri

Toksisitas merkuri berbeda sesuai  bentuk kimianya, misalnya merkuri inorganik bersifat toksik pada ginjal, sedangkan merkuri organik seperti  metil merkuri  bersifat  toksis pada sistim syaraf pusat. Dikenal   3  bentuk   merkuri (Palar,1994) yaitu:

  1. Merkuri elemental (Hg): terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik,  batu batere dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta  untuk produksi klorin  dari sodium klorida.
  2. Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg++ (Mercuric) dan Hg+ (Mercurous)  Misalnya:

-          Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan

-          Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan  untuk teething powder dan laksansia (calomel)

-          Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar.

  1. Merkuri organik:  terdapat dalam beberapa bentuk :

-          Metil merkuri dan  etil merkuri  yang keduanya  termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan.  Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tsb. dapat menyebabkan   gangguan neurologis dan kongenital.

-          Merkuri dalam bentuk alkil  dan aryl rantai panjang dijumpai  sebagai antiseptik dan fungisida.

Merkuri biasanya terdapat dalam bentuk merkuri bebas (Hg+) dalam bentuk anorganik yang sering digunakan sebagai fungisida dan herbisida. Bentuk merkuri organik yaitu phenil merkuri, sementara methil merkuri dihasilkan oleh manusia dan dalam sedimen, HG diabsorbsi oleh mikroorganisme dan akhirnya pada ikan. merkuri dipindahkan oleh ekosistem air, melalui air yang mengalir pada permukaan tanah dan melalui atmosfer. Proses metilasi dari merkuri pada sedimen oleh mikroorganisme terjadi pada pH rendah dan tergantung dari potensial redoks, komposisi populasi mikroorganisme, adanya HG2+ dan suhu. Vitamin B12 diduga sebagai agen metilasi merkuri. (Mukono,2005)

2.1.3 Konsentrasi Merkuri di Lingkungan

Merkuri dan senyawa – senyawanya, seperti halnya dengan logam – logam yang lain, tersebar luas di alam. Mulai dari banruan, air, udara dan bahkan dalam tubuh organisme hidup. Penyebaran dari logam merkuri ini, turut dipengaruhi oleh faktor geologi, fisika, kimia dan biologi.

Berdasarkan pada penelitian – penelitian yang telah dilakukan oleh badan Survey Geologi di Amerika Serikat pada tahun 1974, dapat diketahui konsentrasi merkuri di lingkungan sebagai berikut :

-          Dalam batuan

pada struktur batuan di alam, logam merkuri ditemukan dalam kisaran 0,1 sampai 20 ppm. Pada penelitian tersebut ternyata 20% dari contoh mengandung lebih dari 1 ppm merkuri

-          Dalam tanah

pada lapisan tanah melalui penelitian yang telah dilakukan secara acak pada tempat dan daerah serta wilayah yang berbeda, ditemukan bahwa logam merkuri terkonsentrasi 0,1 ppm. Jumlah tersebut bervariasi pada batasan yang lebih kecil.

-          Dalam sungai

dari penelitian yang dilakukan terhadap perairan ditemukan konsentrasi logam merkuri dalam variasi yang sangat luas, yaitu :

-          65% contoh mengandung            < 10-4 ppm

-          15% contoh mengandung             < 10-3 ppm

-            Dalam udara

Ternyata kondisi dari lokasi pengambilan sampel udara untuk pengujian kandungan merkuri ditemukan konsentrasi yang variatif.

(Palar, 2008)

2.1.4 Nilai Ambang Batas Merkuri

Karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and Administration (FDA)

menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas (NAB) kadar merkuri yang ada dalam jaringan tubuh badan air, yaitu sebesar 0,005 ppm di dalam.

Nilai Ambang Batas yaitu suatu keadaan dimana suatu larutan kimia, dalam hal ini merkuri dianggap belum membahayakan bagi kesehatan manusia. Bila dalam air atau makanan, kadar merkuri sudah melampaui  NAB, maka air maupun makanan yang diperoleh dari tempat tertentu harus dinyatakan berbahaya. Menyatakan NAB air yang mengandung merkuri total 0,002 ppm baik digunakan untuk perikanan. ( Budiono, 2003)

2.1.5    Efek Merkuri Terhadap Manusia dan Lingkungan

Sebagian besar merkuri yang terdapat di alam ini dihasilkan oleh sisa industri dalam jumlah ± 10.000 ton setiap tahunnya. Penggunaan merkuri sangat luas di mana ± 3.000 jenis kegunaan dalam industri pengolahan bahan-bahan kimia, proses pembuatan obat-obatan yang digunakan oleh manusia serta sebagai bahan dasar pembuatan insektisida untuk pertanian (Christian et al., 1970 Dikutip Zul Alfian, 2006 ).

Semua komponen merkuri baik dalam bentuk metil dan bentuk alkil yang

masuk ke dalam tubuh manusia secara terus menerus akan menyebabkan kerusakan permanen pada otak, hati, dan ginjal (Roger et al., 1984 Dikutip Zul Alfian, 2006).

Efek toksisitas merkuri pada manusia bergantung pada bentuk komposisi merkuri, jalan masuknya ke dalam tubuh, dan lamanya berkembang. Contohnya adalah bentuk merkuri (HgCl2) lebih toksik daripada bentuk merkuro (HgCl). Hal ini disebabkan karena bentuk divalen lebih mudah larut daripada bentuk monovalen. Di samping itu, bentuk HgCl2 juga cepat dan mudah diabsorpsi sehingga daya toksisitasnya lebih tinggi (Zul Alfian, 2006).

2.1.6    Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Merkuri

Untuk mengurangi pencemaran limbah Hg di daerah pertambangan emas, dilakukan berbagai cara sebagai berikut :

  1. Memilih teknik penggalian yang ramah lingkungan, yaitu menerapkan sistem pertambangan tertutup sehingga memperkecil keluarnya Hg dari dalam tanah
  2. Menggunakan teknologi pemrosesan batuan tambang yang tidak menggunakan hg, tetapi diganti dengan sianida atau bioteknologi, yaitu proses pencucuian oleh mikroba.

Untuk meminimalisasi tingginya tingkat pencemaran Hg dalam usaha PETI dengan membuat bak pengendap yang mampu menampung materil yang tercecer pada saat dan sedang melakukan penggaran di dalam ruang tertutup atau kedap udara sehingga uap merkuri yang terbentuk bisa dialirkan masuk kedalam bak pengendap yang tertutup rapat.  (Widokawati,dkk. 2008)

Jenis mikroorganisme sebagai bioremoval yang mampu mengabsorbsi polutan logam berat Hg adalah Pseudomonas syringae.

Untuk mengatasi pencemaran Hg, bisa digunakan bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang mengandung Hg dalam jumlah tinggi, yaitu bakteri Pseudomonas, Fluorescens, Staphylococcus aereus dan Bacillus sp. (Markuling, 2007)

2.2 Bakteri

2.2.1    Pengertian Bakteri

Bakteri merupakan mikroba uniseluler. Pada umumnnya bakteri tidak mempunyai khlorofil. Ada beberapa yang fotosintetik dan reproduksi aseksualnya secara pembelahan. Bakteri tersebar luas di alam, di dalam tanah, di atmosfir, di dalam endapan – endapan lumpur, di dalam lumpur laut, dalam air, pada sumber air panas, di daerah antartika, dalam tubuh hewan, manusia, dan tanaman. Jumlah bakteri tergantung keadaan sekitar. Misalnya, jumlah bakteri di dalam tanah tergantung jenis dan tingkat kesuburan tanah. (Nurhidayat, dkk, 2006)

2.2.2 Karakterisitik bakteri

Bakteri umumnya berukuran kecil dengan karakteristik dimensi sekitar 1µm. Bentuknya dapat  bulat atau cocci, batang atau bacilli. Sel dapat tunggal ataupun rantaian. Beberapa kelompok memiliki falgella dan dapat bergerak aktif. Bakteri memiliki berat jenis 1,05 – 1,1 g cm-3 dan berat sekitar 10-12 g sebagai partikel kering. Ukuran aktual tergantung dari laju pertumbuhan, media tumbuh dan sebagainya.

Ada tiga bentuk dasar bakteri, yaitu bulat atau kokus, bentuk batang atau silindris, bentuk lengkung atau vibri.

  1. Bentuk bulat

Bentuk bulat atau kokus dapat dibedakan lagi menjadi :

-       mikrokokus, bulat satu – satu

-       Diplokokus, bulat bergandengan dua – dua

-       Streptokokus, bulat bergandengan seperti rantai

-       Tetrakokus, bulat terdiri dari 4 sel yang tersusun dalam bentuk bujur sangkar sebagai hasil pembelahan sel ke dua arah

-       Sarsina, bulat terdiri dari 8 sel yang tersusun dalam bentuk kubus sebagai hasil pembelahan sel ke tiga arah.

-       Stafilokokus, bulat tersusun sebagai kelompok buah anggur sebagai hasil pembelahan sel ke segala arah

  1. Bentuk batang

Bakteri berbentuk batang dapat dibedakan lagi kedalam bentuk batang panjang dan batang pendek dengan ujung datar atau lengkung. Bentuk batang dapat dibedakan lagi atas bentuk batang yang mempunyai garis tengah sama dan tidak sama di seluruh bagian panjangnya. Bakteri bentuk batang dapat terdiri atas sel tunggal, bergandengan dua- dua (Diplobasilus), dan sebagai rantai (Streptobasilus)

  1. Bentuk Lengkung

Banteri bentuk lengkung pada pokoknya dapat dibagi menjadi bentuk koma (Vibrio), jika lengkungnya kurang dari setengah lingkaran. Jika spiralnya halus dan lentur disebut spirochaeta dan jika spiralnya teball dan kaku disebut spirillium.

(Nurhidayat, dkk, 2006)

2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan dan Reproduksi Bakteri

Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan reproduksi Bakteri yaitu ;

  1. Suhu

Berdasarkan kisaran suhu aktivitasnya, bakteri dibagi menjadi 3 golongan:

-       Bakteri psikrofil, yaitu bakteri yang hidup pada daerah suhu antara 0°– 30°C, dengan suhu optimum 15°C.

-       Bakteri mesofil, yaitu bakteri yang hidup di daerah suhu antara 15° – 55°C, dengan suhu optimum 25° – 40°C.

-       Bakteri termofil, yaitu bakteri yang dapat hidup di daerah suhu tinggi antara 40° – 75°C, dengan suhu optimum 50 – 65°C

  1. Kelembapan

Pada umumnya bakteri memerlukan kelembapan yang cukup tinggi, kira-kira 85%. Pengurangan kadar air dari protoplasma menyebabkan kegiatan metabolisme terhenti, misalnya pada proses pembekuan dan pengeringan.

  1. Cahaya

Cahaya sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan bakteri. Umumnya cahaya merusak sel mikroorganisme yang tidak berklorofil. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel yang berakibat menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian. Pengaruh cahaya terhadap bakteri dapat digunakan sebagai dasar sterilisasi atau pengawetan bahan makanan. (Nurhidayat, dkk, 2006)

Jika keadaan lingkungan tidak menguntungkan seperti suhu tinggi, kekeringan atau zat-zat kimia tertentu, beberapa spesies dari Bacillus yang aerob dan beberapa spesies dari Clostridium yang anaerob dapat mempertahankan diri dengan spora. Spora tersebut dibentuk dalam sel yang disebut endospora. Endospora dibentuk oleh penggumpalan protoplasma yang sedikit sekali mengandung air. Oleh karena itu endospora lebih tahan terhadap keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan bakteri aktif. Apabila keadaan lingkungan membaik kembali, endospora dapat tumbuh menjadi satu sel bakteri biasa. Letak endospora di tengah-tengah sel bakteri atau pada salah satu ujungnya. (Nurhidayat, dkk, 2006)

2.2.4 Peranan Bakteri

  • Bakteri Menguntungkan
  1. Bakteri pengurai

Bakteri saprofit menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, serta sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lain menjadi CO2, gas amoniak, dan senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Oleh karena itu keberadaan bakteri ini sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan dengan cara ini bakteri membersihkan dunia dari sampah-sampah organik.

  1. Bakteri nitrifikasi

Bakteri nitrifikasi adalah bakteri-bakteri tertentu yang mampu menyusun senyawa nitrat dari amoniak yang berlangsung secara aerob di dalam tanah. Nitrifikasi terdiri atas dua tahap yaitu:

-       Oksidasi amoniak menjadi nitrit oleh bakteri nitrit. Proses ini dinamakan nitritasi.

-       Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

  1. Bakteri nitrogen

Bakteri nitrogen adalah bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas dari udara dan mengubahnya menjadi suatu senyawa yang dapat diserap oleh tumbuhan. Karena kemampuannya mengikat nitrogen di udara, bakteri-bakteri tersebut berpengaruh terhadap nilai ekonomi tanah pertanian. Kelompok bakteri ini ada yang hidup bebas maupun simbiosis. Bakteri nitrogen yang hidup bebas yaitu Azotobacter chroococcum, Clostridium pasteurianum, dan Rhodospirillum rubrum.

  1. Bakteri usus

Bakteri Eschereria coli hidup di kolon (usus besar) manusia, berfungsi membantu membusukkan sisa pencernaan juga menghasilkan vitamin B12, dan vitamin K yang penting dalam proses pembekuan darah. Dalam organ pencernaan berbagai hewan ternak dan kuda, bakteri anaerobik membantu mencernakan selusosa rumput menjadi zat yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh dinding usus. (Wikipedia, 2010)

  • Bakteri Penghasil Antibiotik

Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:

-          Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin

-          Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin

-          Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin

  • Bakteri Merugikan

-          Bakteri Penyebab Penyakit pada manusia

No. Nama bakteri Penyakit yang ditimbulkan
1. Salmonella typhosa Demam Tifoid
2. Shigella dysenteriae Disentri basiler
3. Vibrio comma Kolera
4. Haemophilus influenza Influensa
5. Diplococcus pneumoniae Pneumonia (radang paru-paru)
6. Mycobacterium tuberculosis TBC paru-paru
7. Clostridium tetani Tetanus
8. Neiseria meningitis Meningitis (radang selaput otak)
9. Neiseria gonorrhoeae Gonorrhaeae (kencing nanah)
10. Treponema pallidum Sifilis atau Lues atau raja singa
11. Mycobacterium leprae Lepra (kusta)
12. Treponema pertenue Puru atau patek

sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Bakteri)

2.3 Bakteri di Feses

Diperkirakan ada 100 triliun sel-sel bakteri ditubuh dan jumlah ini lebih banyak 10 kali lipat dari jumlah sel-sel manusia. Bakteri beredar di seluruh tubuh mulai dari perut, alat kelamin, kulit dan telinga. Bakteri baik dapat meningkatkan kesehatan atau sebaliknya jika mendapat masalah dari luar tubuh justru bakteri baik akan hilang dan berubah menjadi sakit. (Alexa, 2010)

Colibacteria mikroorganisme relatif tidak berbahaya, yang hadir dalam usus manusia dan hewan dalam jumlah besar. Mereka memainkan peran penting dalam pencernaan makanan. Feses colibacteria (Enterobacteriaceae) adalah subkelompok colibacteria. Escherichia coli (E. coli) adalah yang paling dikenal comminly spesies colibacterium feses.

Colibacteria feses yang berbeda dari spesies lain colibacteria, karena mereka tumbuh di bawah kondisi peningkatan suhu, dan karena mereka hanya hadir dalam kotoran manusia dan hewan. Ketika feses colibacteria hadir dalam lingkungan perairan, ini menunjukkan bahwa air yang tercemar oleh kotoran manusia atau hewan.  Hal ini umumnya mengarah pada kesimpulan bahwa bakteri atau virus patogen yang hadir, yang berasal dari kotoran. Menentukan jumlah colibacteria dalam air dilakukan dengan filtrasi membran. Bakteri tidak dapat melewati membran penyaring, dan dapat dipisahkan dan dianalisis di laboratorium. Masing-masing mengembangkan sel terpisah untuk membentuk sebuah koloni unit (CFU). (Alexa, 2010)

Seperti colibacteria, streptokokus hadir dalam usus manusia dan hewan, tetapi juga di perut banyak spesies strepotcoccus bersifat patogen Mereka menyebabkan penyakit seperti pneumonia bakteri, infeksi telinga dan bakteri meningitis.

Feses strepotococci (enterococcus) adalah subkelompok dari genus streptokokus feses streptokokus dapat ditemukan di dalam perut dan usus manusia dan hewan,  Seperti feses coliforms, feses streptokokus diterapkan sebagai indikator polusi air. (Nurhidayat. 2006)

2.4 Bakteri Resisten merkuri

Salah satu usaha untuk detoksifikasi merkuri dapat dilakukan menggunakan mikroorgansime resisten merkuri, misalnya bakteri resisten merkuri. Detoksifikasi merkuri oleh bakteri resisten merkuri terjadi karena bakteri resisten merkuri memiliki gen resisten merkuri, mer operon. Struktur mer operon  berbeda untuk tiap jenis bakteri. Umumnya struktur mer operon terdiri dari gen metaloregulator (merR), gen transpor merkuri (merT, merP, merC), gen merkuri reduktase (merA) dan organomerkuri liase (merB). Menurut Liebert et al, (1999), model mekanisme resisten merkuri bakteri gram negatip adalah sebagai berikut Hg(II) yang masuk periplasma terikat ke pasangan residu sistein MerP. Selanjutnya MerP mentransfer Hg(II) ke residu sistein MerT atau MerC. (Nofiani dan Guzrisal, 2004)

Akhirnya ion Hg menyeberang membran sitoplasma melalui proses reaksi pertukaran ligan menuju sisi aktif flavin disulfida oksidoreduktase, merkuri reduktase (MerA). Merkuri reduktase mengkatalisis reduksi Hg(II) menjadi Hg(0) volatil dan sedikit reaktif. Akhirnya Hg(0) berdifusi dilingkungan sel untuk selanjutnya dikeluarkan dari sel. Bakteri yang hanya memiliki protein merkuri reduktase (MerA) disebut dengan bakteri resisten merkuri spektrum sempit. Beberapa bakteri selain memiliki protein merkuri reduktase (MerA) juga memiliki protein organomerkuri liase (MerB).  (Nofiani dan Guzrisal, 2004)

MerB berfungsi dalam mengkatalisis pemutusan ikatan merkuri-karbon sehingga dihasilkan senyawa organik dan ion Hg yang berupa garam tiol. Bakteri yang memiliki kedua protein merkuri reduktase (MerA) dan organomerkuri liase (MerB) disebut dengan bakteri resisten merkuri spektrum luas. Mikroorganisme yang terdapat pada daerah tercemar merkuri berperan utama untuk detoksifikasi merkuri. Oleh karena itu, mikroorganisme yang terdapat pada daerah tercemar merkuri merupakan sumber untuk isolasi bakteri resisten merkuri. (Nofiani dan Guzrisal, 2004)


BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dalam bentuk pemeriksaan laboratorium.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian akan dilakukan pada masyarakat di desa talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara. Tempat analisa kadar Hg di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) – Pemberantasan Penyakit Menular (PPM) Manado. Tempat analisa/ identifikasi bakteri Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan maret sampai bulan april 2010.

3.3 Populasi dan Sampel

3.1.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah bakteri yang ada dalam feces anak – anak di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara.

3.1.2 Sampel

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah feses anak – anak di Desa Talawaan Kec. Talawaan Kab. Minahasa Utara. Dipilih secara purposif yakni 5 feses anak di Desa Talawaan Kec. Talawaan Kab. Minahasa Utara.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah konsentrasi merkuri, dan jenis – jenis bakteri resisten merkuri dalam feses.

3.5 Definisi Operasional

  1. Merkuri adalah unsur logam berat yang banyak di gunakan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Tatelu dalam proses pengolahan emas.
  2. Konsentrasi Merkuri adalah banyaknya kandungan merkuri yang berada pada sumber air minum di Desa Talawaan Kecamatan Talawaan Kabupaten Minahasa Utara.
  3. Bakteri adalah mikroorganisme dari bentukan koloni yang tumbuh pada media kultur yang memiliki struktur morfologi khas.
  4. Bakteri Resisten Merkuri adalah mikroorganisme dari bentukan koloni yang dapat hidup pada konsentrasi merkuri melebihi 0,01 ppm
  5. Feses merupakan hasil akhir dari proses yang berlangsung dalam tubuh manusia yang menyebabkan pemisahan dan pembuangan zat – zat yang tidak dibutuhkan tubuh.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

-            AAS (Atonmic Absorption Spectrophometry), yaitu suatu alat pendeteksi dan pengukur kadar digital logam berat (milik BTKL-PM Manado)

-            Media dan reagen untuk pemeriksaan bakteri (milik Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado).

3.7 Prosedur  Kerja

  1. Pemeriksaan Kadar Merkuri
  2. Identifikasi Jenis Bakteri Resisten Merkuri

3.8 Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data diperoleh dari penelitian langsung dengan cara  mengidentifikasi bakteri dan bakteri resisten merkuri. Data ini merupakan data hasil pemeriksaan laboratorium.

2.  Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari penelitian dan jurnal dari internet, wawancara dengan perangkat Desa Talawaan dan profil Desa Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara

About these ads

About kristonimala

studing in Public Health Faculty of Unsrat...
This entry was posted in Kesehatan Lingkungan. Bookmark the permalink.

4 Responses to Bakteri Resisten Merkuri pada Feses Anak di Desa Talawaan

  1. adelina sinaga says:

    angkatan brpa kak? udhbyk bgt atikel2 ya,,, rennnn

  2. Rind Na Cwit says:

    saya ingin bertanya… apakah Hg di dalam tubuh manusia mampu direduksi oleh bakteri resisten merkuri dalam tubuh?

  3. kristonimala says:

    mhon maaf saya baru dpt menjawab sekrg. jd penelitian sya ini hnya sampai pd org yg trpapar merkuri dan bakteri yg dp brtahn hdup dlm lngkungn yg mngandung senyawa Hg.

  4. ferdy says:

    menurut saya, Jika kita berhenti makan makanan yang mengandung merkuri tubuh kita akan mulai membuang merkuri yang tertimbun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s