Magang Di BLH Prov. SULUT


LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG
DI BADAN LINGKUNGAN HIDUP
PROVINSI SULAWESI UTARA
2 JULI – 31 JULI 2009

KONSENTRASI MERKURI DI DANAU TONDANO BERDASARKAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR TAHUN 2008

OLEH :
KRISTONI J. MALA
060112048

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2009

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG
DI BADAN LINGKUNGAN HIDUP (BLH) PROVINSI SULAWESI UTARA
TENTANG
KONSENTRASI MERKURI DI DANAU TONDANO BERDASARKAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR TAHUN 2008
Telah Diperiksa, Dipresentasikan dan Dinyatakan Sah Untuk Diterima
Manado, Oktober 2009

Pembimbing Materi Pembimbing Lapangan

dr. Benedictus S. Lampus, MKes Sonny Runtuwene, SE
NIP. 131 106 879 NIP : 19620925 199103 1 004

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Sam Ratulangi

Prof. dr. Jootje M. L. Umboh, MS
NIP. 19470316 197303 1 001

LEMBAR LAYAK SEMINAR
LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG

DI BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA (BKKBN) PROVINSI SULAWESI UTARA

TENTANG
KONSENTRASI MERKURI DI DANAU TONDANO BERDASARKAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR TAHUN 2008

Telah Diperiksa, dan Dinyatakan Layak Untuk Diseminarkan

Manado, Oktober 2009

Pembimbing Materi Pembimbing Lapangan

Dr. B. S. Lampus, MKes Sonny Runtuwene, SE
NIP. 131 106 879 NIP : 19620925 199103 1 004

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan bimbinganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan magang yang bertempat di Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara sekaligus dapat menyelesaikan laporan hasil pelaksanaan magang yang dilaksanakan selama 4 minggu.
Kegitan magang ini merupakan program dari Fakultas Kesehatan Masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa semester tujuh dalam rangka pencapaian kredit smester yang menjadi salah satu syarat sebagai seorang sarjana kesehatan masyarakat.
Dalam pelaksanaan kegiatan magang ini penulis banyak mendapat bimbingan dari berbagai pihak serta mendapat pengalaman kerja, oleh sebab itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Prof. dr. Jootje M.L. Umboh, MS sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRAT Manado,
2. Ir. F.B. Tamon, M.Si sebagai kepala BLH Prov. SULUT
3. Dr. Benedictus S. Lampus, MKes sebagai dosen pembimbing materi
4. Sonny Runtuwene, SE sebagai dosen pembimbing lapangan
5. Netty Wowiling, SE sebagai kepala Sub Bidang Pengelolaan Limbah B3
6. Ir. Nike C. Mamahit sebagai kepala Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan
7. Dr. Budi Ratag sebagai koordinator magang
8. Seluruh staff Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara
9. Orang Tua yang selalu memberikan dukungan.
10. Semua pihak yang telah membantu penulis dan menyusun laporan magang

Namun penulis menyadari menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan magang. Untuk itu bila ada kekurangan dalam laporan magang ini, penulis mohon kritikan dan saran demi penyempurnaan laporan. Harapan penulis kiranya laporan magang ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian

Manado, Oktober 2009
Penulis

Kristoni J. Mala

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR …………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………… iii
DAFTAR TABEL …………………………………… v
DAFTAR GAMBAR …………………………………… vi

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……………………………………. 1
1.2 Tujuan Magang …………………………………… 2
1.3 Manfaat Magang …………………………………… 3

BAB II. GAMBARAN UMUM
2.1 Analisa Situasi Umum ……………………………. 5
2.1.1 Sejarah dan Kedudukan BLH …………… 5
2.1.2 Visi BLH ……………………………. 6
2.1.3 Misi BLH ……………………………. 6
2.1.4 Tujuan BLH ……………….…………… 6
2.1.5 Sasaran BLH ……………….…………… 6
2.1.6 Tugas Pokok BLH …………………… 7
2.1.7 Fungsi BLH ……………….…………… 7
2.1.8 Pengorganisasian BLH ……….…………… 7
2.1.9 Ketenagaan BLH …………….……………… 8
2.2 Analisa Situasi Khusus ……………….…………… 9

BAB III. HASIL KEGIATAN
3.1 Uraian Kegiatan …………………………… 14
3.2 Identifikasi Masalah …………………………… 15
3.3 Alternatif Pemecahan Masalah …………………… 16
3.4 Kontribusi bagi Instansi dan Peserta Magang …… 16

BAB IV. PEMBAHASAN
4.1 Definisi Merkuri ………………………….. 19
4.2 Penggolongan Merkuri ………………………….. 19
4.3 Manfaat Merkuri ………………………….. 20
4.4 Dampak Merkuri bagi Lingkungan dan Manusia… 21
4.5 Pencegahan Bahaya Merkuri ………………… 22

BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan ………………………….. 24
5.2 Saran …………………………. 24

DAFTAR PUSTAKA …………………………………. 25
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Data Ketenagaan Menurut Tingkat Pendidikan Formal……… 8
Tabel 2. Data Ketenagaan Menurut Golongan Kepangkatan ………… 8
Tabel 3. Program Kerja yang dilaksanakan oleh Bidang Pengendaliaan
Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) ………………………………… 11
Table 4. Konsentrasi Merkuri Air Danau Tondano ………………… 15
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Berkunjung di Water Laboratory Nusantara ( WLN)

Gambar 2 : Pengambilan Sampel Air dalam rangka kegiatan diklat pemantuan kualitas air

Gamabr 3 : Acara Pelatihan Pengolahan Sampah Padat Perkotaan di Ruang Mapalus Kantor Gubernur

Gambar 4 : Ikut Serta Dalam Kegiatan Diklat Pemantuan Kualitas Air

Gambar 5 : Membantu pegawai BLH Prov. Sulut dalam Pendataan Absensi Pegawai

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sesuai dengan Undang – Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997, Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan kualitas air secara bertahap dan berkesinambungan. Begitu pentingnya komponen air bagi kehidupan dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga Pemerintah mengeluarkan Peraturan mengenai pengelolaan kualitas air dan pemantauan kualitas air, demi menjaga kelestarian ekosistem dan kepentingan generasi sekarang dan mendatang.
Melalui Surat Menteri Negara Lingkungan Hidup RI nomor B-7297/MENLH/9/2007 tanggal 14 September 2007, Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2008 merencanakan kegiatan dekonsentrasi bidang lingkungan hidup kepada 33 Provinsi yang bertujuan memperkuat peran Pemerintah Provinsi dalam pengelolaan lingkungan hidup. Provinsi Sulawesi Utara merupakan provinsi yang akan mendapatkan dana tersebut, dengan salah satu kegiatan adalah pemantauan dan pelaporan kualitas air sungai di wilayah Provinsi. Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sulawesi Utara menindaklanjuti kegiatan ini dengan melaksanakan pemantauan kualitas air di Danau Tondano yang berada di Kabupaten Minahasa.
Dari kondisi di lapangan , sumber air ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan seperti pembangkit tenaga listrik, sumber air minum (PDAM), pertanian, perikanan, peternakan, industri, domestik, yang memberikan indikasi masuknya unsur-unsur tertentu yang dapat mempengaruhi kualitas air yang ada, selanjutnya dapat mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat. Adanya berbagai dampak atau masalah tersebut menunjukkan upaya pengelolaan kualitas air perlu diprioritaskan dan perlu dijaga kelestariannya sehingga dapat berfungsi optimal sesuai dengan kebutuhan dan pemanfaatannya.
Pengelolaan kualitas air melibatkan banyak kegiatan di berbagai tingkatan dan menjadi bahan pertimbangan mulai dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan dan monitoring. Dalam manajemen kualitas air diperlukan kemampuan untuk meramalkan dampak dari meningkatnya aktivitas manusia terhadap merosotnya kualitas air, karena akibat dari pencemaran dapat merugikan baik terhadap pemakai air, badan air dan organisme air itu sendiri bahkan dapat mengakibatkan terjadinya degradasi pada bangunan di dalam suatu perairan. Oleh sebab itu, maka penerapan suatu sistem pengelolaan kualitas air yang baik diharapkan dapat memberikan alternatif sebagai solusi pekerjaan untuk menjaga agar keseimbangan lingkungan tetap dapat dipertahankan sehingga akan menjamin terlaksananya suatu pola pembangunan yang berkelanjutan.
1.2 Tujuan Magang
1.1.1 Tujuan Umum
Secara Umum tujuan magang adalah untuk memperoleh pengalaman keterampilan, penyesuaian sikap dan penghayatan pengetahuan di dunia kerja dalam rangka memperkaya pengetahuan dan ketrampilan bidang ilmu kesehatan masyarakat, serta melatih kemampuan bekerja sama dengan orang lain dalam satu tim sehingga memperoleh manfaat bersama baik peserta magang maupun istansi tempat magang.
1.1.2 Tujuan Khusus
a. Bagi Peserta Magang
– Mampu mengidentifikasi dan menjelaskan tentang organisasi, system manajemen, prosedur kerja dan ruang lingkup pelayanan di tempat magang ( Puskesmas, Dinas Kesehatan, Rumag Sakit, Perusahaan dan Instansi terkait lainnya baik milik pemerintah maupun swasta ).
– Mampu mengidentifikasi masalah, merumuskan dan memberikan alternatif pemecahan masalah ( Problem Solving ) di tempat magang.
– Mampu melakukan tindakan – tindakan standar yang umum dilaksanakan dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat, ditekankan pada bidang minat yang digeluti.
– Mampu bekerja sama dengan orang lain dalam satu tim sehingga diperoleh manfaat bersama baik bagi peserta magang maupun instansi tempat magang.
b. Bagi Fakultas dan Tempat Magang
– Fakultas mendapatkan masukan yang berguna untuk penyempurnaan kurikulum dalam upayah mendekatkan diri dengan kebutuhan pasar
– Memberikan masukan yang bermanfaat bagi tempat magang
– Membina dan meningkatkan kerja sama antara FKm dengan institusi / instansi / unit kerja pemerintah maupun swasta tempat mahasiswa melaksanakan magang
– Membuka peluang kerja bagi para lulusan untuk berkarir di institusi / instansi / unit kerja pemerintah maupun swasta
1.3 Manfaat Magang
A. Bagi Mahasiswa
– Mendapat pengalaman dan keterampilan yang berhubungan dengan Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di antaranya Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Gizi Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan
– Terpapar dengan kondisi dan pengalaman di lapangan
– Mendapatkan pengalaman menggunkan metode analisis masalah yang tepat terhadap permasalahan yang ditemukan di tempat magang
– Memperkaya kajian dalam Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat terutama sesuai bidang minta yang digeluti
– Penemuan baru mengenai analisis permasalahan dan kiat – kiat pemecahan masalah kesehatan
– Memperoleh gambaran peluang kerja bagi Sarjana Kesehatan Masyarakat
– Mendapatkan bahan untuk penulisan skripsi / karya ilmiah

B. Bagi Tempat Magang
– Tempat magang dapat manfaat tenaga terdidik dalam membantu penyelesaian tugas – tugas yang ada sesuai kebutuhan di unit masing – masing
– Tempat magang mendapatkan alternatife calon pegawai / karyawan yang telah dikenal kualitas dan kredibilitasnya
– Turut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan perguruan tinggi dalam menciptakan lulusan yang berkualitas, terampil dan memiliki pengalaman kerja
C. Bagi Fakultas
– Laporan magang dapat menjadi salah satu audit internal kualitas pengajaran
– Memperkenalkan program kepada industry lain
– Mendapatkan masukan bagi pengembangan program
– Terbinanya jaringan kerja sama dengan tempat magang dalam upaya meningkatkan keterkaitan dan kesepadaan antara substansi akademik dengan pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan kesehatan masyarakat
BAB II. GAMBARAN UMUM
2.1 Analisis Situasi Umum
2.1.1 Sejarah dan Kedudukan Badan Lingkungan Hidup
Pelaksanaan pembangunan di sektor lingkungan hidup mengacu pada Peraturan Perundang-undangan antara lain Undang-Undang No 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, dimana sasaran utamanya adalah pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang berpilar pada pembangunan ekonomi, pembangunan sosial budaya masyarakat dan pembangunan lingkungan hidup. Dalam mengimplementasikan Undang-Undang tersebut telah diterbitkan berbagai peraturan pelaksanaan baik di tingkat nasional maupun daerah (Innerindo Dinamika, 2005).
Pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Sulawesi Utara dilaksanakan sejak tahun 1980-an dan secara struktural berada dalam lingkup Sekretariat Kantor Gubernur. Makin kompleksnya permasalahan lingkungan hidup akibat adanya proses pembangunan, maka dibentuklan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BAPEDALDA) Provinsi Sulawesi Utara melalui Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1997, dan pada tahun 2001 diadakan penyesuaian Struktur Organisasi berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2000 terdiri dari 1 (satu) kepala, 1 (satu) sekretaris dan 3 (tiga) bidang yang dalam pelaksanaan tugasnya diatur lebih lanjut dalam Keputusan Gubernur Nomor 152 Tahun 2001 tentang susunan organisasi, uraian tugas dan tata kerja Bapedal Provinsi Sulawesi Utara.
Untuk meningkatkan fungsi pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menetapkan Peraturan Daerah Nomor 28 Tahun 2003 tentang Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Provinsi Sulawesi Utara yang saat ini sudah berganti nama menjadi Badan Lingkungan Hidup (BLH) sesuai Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 66 Tahun 2008, yang dipimpin oleh seorang kepala yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah Provinsi sebagai satu-satunya lembaga yang tugas dan fungsinya sebagai pelaksanaan koordinasi dan pembinaan teknis operasional, pelaksanaan pembinaan teknis fungsional dan penyelenggaraan teknis administrasi kesekretariatan di bidang lingkungan hidup. (Renja BLH, 2009).
2.1.2 Visi Badan Lingkungan Hidup
Mewujudkan Badan Lingkungan Hidup sebagai institusi handal dan proaktif dalam mewujudkan Good Environmental Governance, serta mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan.
2.1.3 Misi Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Dalam mewujudkan Visi BLH Provinsi Sulawesi Utara, maka ditetapkan Misi sebagai berikut :
a. Mewujudkan rancangan kebijakan, pola pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi LH, penataan ruang serta berperan dalam proses pengambilan keputusan pemerintah daerah.
b. Melakukan koordinasi, pembinaan dan pengawasan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan Good Environmental Governance (GEG).
2.1.4 Tujuan Badan Lingkungan Hidup
1. Meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup melalui pembuatan peraturan-peraturan PLH di daerah.
2. Meningkatkan penaatan pemanfaatan ruang sesuai tata ruang
3. Meningkatkan kualitas fungsi lingkungan hidup
4. Meningkatkan koordinasi, pembinaan dan pengawasan PLH
5. Meningkatakan pembangunan berkelanjutan dan Good Environmental Governance.
2.1.5 Sasaran Badan Lingkungan Hidup
1. Tersedianya peraturan pengelolaan lingkungan hidup sesuai kondisi daerah
2. Terwujudnya pemanfaatan ruang sesuai fungsi dan peruntukannya
3. Tersedianya SDA yang dapat menopang pembangunan berkelanjutan
4. Terwujudnya koordinasi pengelolaan lingkungan hidup
5. Terwujudnya pembinaan dan pengelolaan lingkungan hidup
6. Terwujudnya kualitas pembangunan melalui peran serta masyarakat.

2.1.6 Tugas Pokok Badan Lingkungan Hidup
Berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara Nomor 66 Tahun 2008 Tentang Uraian tugas Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, maka Badan Lingkungan Hidup mempunyai Tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik dibidang lingkungan hidup.
2.1.7 Fungsi Badan Lingkungan Hidup
Dalam melaksanakan Tugas Pokok di atas maka, Balai Lingkungan Hidup memiliki fungsi :
1. Perumusan kebijakan teknis
2. Penyusunan perencanaan, pengkoordinasian dan pembinaan pelaksanaan tugas
3. Pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintah daerah dibidang lingkungan hidup
4. Penyelenggaraan urusan administrasi kesekretariatan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur.
2.1.8 Pengorganisasian Badan Lingkungan Hidup
Struktur organisasi dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) dibuat berdasarkan Peraturan Daerah Sulawesi Utara No. 4 Tahun 2008 tanggal 22 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah dan Lembaga Lain Provinsi Sulawesi Utara dan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara No. 66 Tahun 2008 tanggal 30 Desember 2008 tentang Uraian Tugas Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara. Adapun tugas dan fungsi dari masing-masing struktur tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kepala BLH
2. Sekretariat, terdiri dari :
– Sub. Bagian Hukum dan Kepegawaian
– Sub. Bagian Perencanaan dan Keuangan
– Sub. Bagian Umum
3. Bidang Tata Lingkungan, terdiri dari :
– Sub. Bidang Penaaan, Pengawasan dan Evaluasi Lingkungan
– Sub. Bidang Kajian Dampak Lingkungan
4. Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Pengendalian Limbah B3, terdiri dari :
– Sub. Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan
– Sub. Bidang Pengendalian Limbah B3
5. Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, terdiri dari :
– Sub. Bidang Konservasi Sumber Daya Alam
– Sub. Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan
6. Bidang Penataan Lingkungan, terdiri dari :
– Sub. Bidang Penegakan Peraturan Lingkungan
– Sub. Bidang Penyelesaian Pengaduan dan Sengketa Lingkungan
– Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh sekretaris.

1.1.9 Ketenagaan Badan Lingkungan Hidup
Tabel 1. Data Ketenagaan Menurut Tingkat Pendidikan Formal
No Pendidikan Jumlah tenaga
1.
2.
3.
4. Strata dua
Strata satu
Sarjana muda
SLTA 3 orang
25 orang
3 orang
11 orang
Jumlah 42 orang
Sumber : Renja BLH 2009
Berdasarkan tabel di atas, jumlah pegawai BLH Provinsi Sulawesi Utara menurut tingkat pendidikan formal sebanyak 40 orang. Tenaga kerja dengan tingkat strata dua sebanyak 3 orang, strata satu sebanyak 25 orang, sarjana muda sebanyak 3 orang, dan SLTA sebanyak 11 orang.

Tabel 2. Data Ketenagaan Menurut Golongan Kepangkatan
No Golongan Jumlah Tenaga
1. IV / d 1 orang
2. IV / b 3 orang
3. IV / a 2 orang
4. III / d 10 orang
5. III / c 6 orang
6. III / b 7 orang
7. III / a 6 orang
8. II / d 4 orang
9. II / a 1 orang
Total 40 orang
Sumber : Renja BLH 2009
Berdasarkan tabel di atas, jumlah pegawai BLH menurut golongan kepangkatan yang paling banyak yaitu golongan III/d dengan jumlah 10 orang dan yang paling sedikit adalah golongan IV/d dan II/a masing – masing dengan jumlah 1 orang.

1.2 Analisis Situasi Khusus
Sesuai dengan Peraturan Gubernur Sulawesi Utara No. 66 Tahun 2008 tentang uraian tugas Badan Lingkungan Hidup Propinsi Sulawesi Utara maka Badan Lingkungan Hidup mempunyai 4 bidang dalam kaitan dengan tugas pokok dan fungsi BLH, yaitu Bidang Tata Lingkungan, Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Bidang Koservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, dan Bidang Penataan Lingkungan.
Salah satu Bidang adalah Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaan Limbah B3 yang memiliki 2 Sub Bidang yaitu Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Sub Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), masing – masing sub bidang mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :
1. Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Tugas :
– Melaksanakan pelayanan administrasi dan mengkoordinasi pelaksanaan tugas
– Melaksanakan koordinasi pengeloalaan kualitas air dan pemantauan kualitas air pada sumber air skala provinsi
– Menyediakan informasi status mutu air
– Mengecek pelaksanaan pengendalian pencemaran air pada sumber air skala provinsi
– Pembinaan, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan pemberian izin pembuangan limbah pada sumber air
– Penyediaan informasi status mutu udara ambient
– Melaksanakan koordinasi pelakasanaan pemantauan kualitas lingkungan hidup bagi industri yang berpotensi menyebabakan terjadinya kerusakan lingkungan hidup
– Membantu kualitas lingkungan hidup
– Melaksanakan program ADIPURA
– Melaksanakan program kali bersih (PROKASIH)
– Melaksanakan program PROPER
– Melaksanakan pembinaan dan pengawasan dan penerapan sistem manajemen lingkungan ecolabel, produksi bersih dan teknologi berwawasan lingkungan
– Membantu dan menyusun laporan kegiatan
– Melaksanakan tugas lain yang diberikan olelh Kepala Bidang
2. Sub Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Tugas :
– Melaksanakan pelayanan administrasi dan mengkoordinasi pelaksanaan tugas
– Melaksanakan pengawasan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)
– Melakukan kajian teknis dalam pemberian izin / rekomendasi pengumpulan limbah B3 skala provinsi kecuali minyak pelumas / oli bekas
– Melaksanakan pengawasan pemulihan akibat pencemaran limbah (B3) skala provinsi
– Melakukan pengawasan sistim tanggap darurat skala provinsi
– Melaksanakan pengawasan penanggulangan kecelakaan pengelolaan limbah (B3) skala provinsi
– Melakukan pengawasan terhadap penataan penanggungjawab usaha dan atau kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya pencemarair, udara dan tanah akibat limbah (B3)
– Melakukan koordinasi, pembinaan, pemanfaatan,pengawasan dan peningkatan fungsi laboratorium lingkungan
– Melakukan intervensi, evaluasi kualitas dan kemampuan laboratorium lingkungan
– Melakukan kajian kelayakan laboratorium untuk diitunjuk sebagai laboratorium lingkungan yang telah diakreditasi / direkomendasi untuk melakukan analisis lingkungan
– Membuat dan menyusun laporan kegitan
– Melaksanakan tugas lain yang diberikan olelh Kepala Bidang
(Peraturan Gubernur Sulawesi Utara No 66 Tahun 2008)
Tabel 3. Program Kerja yang dilaksanakan oleh Bidang Pengendaliaan Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
No. Program Kegiatan Lokasi
A P B D
1. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Koordinasi Penilaian Kota Sehat / Adipura 1. Kota Bitung
2. Kota Manado
3. Kota Tomohon
4. Kab. Minahasa
5. Kab. Minsel
6. Kota Kotamobagu
7. Kab. Minut
8. Kab. Sangihe
2. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Pemantauan Kualitas Lingkungan 1. Jakarta
2. Bolmong (Avocet)
3. Kab. Sangihe
4. Kab. Kep. Talaud
5. Kab.Sitaro (Danau Kapeta)
3. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Peningkatan Peringkat kinerja Perusahaan ( PROPER) 1. Jakarta
2. Provinsi Sulut (Rapat) 8 Perusahaan :
1. PT. Sinar Pure Foot Int. Bitung
2. PT. bitung Mina Utama
3. PT. salim Ivomas Pratama Bitung
4. PT. Deho Canning Company Bitung
5. PT. Manadomina Citrataruna Bitung
6. PT. dimembe Nyiur Agripro
7. PT. Cargil Minsel
8. PT. Wenang Beverage Company Minut
4. Peningkatan Pengendalian Polusi Pengujian kadar polusi limbah padat dan cair 1. Kab. Kep. Sangihe (Rumah sakit dan PLTD)
2. Kab. Kep. Talaud (Rumah sakit dan PLTD)
3. Kab. Sitaro (Rumah sakit, Hotel, PLTD)
4. Jakarta
A P B N
5. Pemantauan Kualitas Air Sungai 1. Desain pemantauan Kualitas Air Sungai
2. Rakernis Perencanaan Pemantauan Kualitas Air
3. Survey Lapangan

4. Peningkatan Kapasitas Teknik Pemantauan Kualitas Air
5. Sampling Air Sungai

6. Evaluasi pemantauan Kualitas Air
7. Analisis Sampel

Sumatera Barat

Bolmut (Sungai Sangkub)
Jakarta

Bolmut (Sungai Sangkub)
Jakarta

Laboratorium BTKL –PPM Manado
6. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Kab/Kota dan Pemantauan Kualitas Air Sungai Pelatihan 25 orang peserta dari Provinsi dan Kab/Kota Se-Sulut Manado
(Sumber : ROK BLH Prov. Sulut Tahun 2009)

BAB III. HASIL KEGIATAN
3.1 Uraian Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan lapangan magang dilakukan dari tanggal 2 juli sampai 31 Juli 2009, bertempat di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sulawesi Utara dengan penempatan pada bidang pengendalian pencemaran lingkungan dan pengelolaan limbah B3. Waktu pelaksanaan kegiatan magang dilakukan sesuai dengan hari kerja efektif yang berlaku pada instansi yaitu dari hari senin sampai jumat dengan jam kerja untuk hari senin sampai kamis dari pukul 07.45 sampai pukul 16.15 wita, dan hari jumat pukul 07.00 sampai 11.30 wita.
Keseluruhan kegiatan magang yang sudah dilakukan di BLH Prov. Sulut meliputi :
1. Membantu tugas – tugas kantor, antara lain :
– membantu penulisan surat tugas pegawai
– membuat rekap daftar hadir pegawai BLH
– membuat struktur organisasi BLH Prov. Sulut
– mencatat surat masuk di bidang yang di tempatkan
– membantu mengetik buku panduan pelaksanaan Diklat pemantauan kualitas air
– mengetik daftar nama – nama peserta dan panitia Diklat pemantauan kualitas air
– membantu pengetikan daftar honor pegawai
– membantu pengetikan Rencana Operasional Kerja ( ROK ) bidang pengendalian pencemaran lingkungan dan limbah B3
2. Berkunjung ke WLN (Water Laboratory Nusantara) pada tanggal 10 juli 2009
3. Mengikuti acara penutupan RAKERNAS AMDAL di Hotel Swiss bell maleosan pada tanggal 17 juli 2009
4. Mengikuti kegiatan Diklat yang diselenggarakan oleh BLH Prov. Sulut mengenai Pemantauan Kualitas Air yang dilaksanakan selama 4 hari ( 21-24 juli 2009 ) di BAPELKES malalayang manado.
5. Ikut bersama peserta Diklat berkunjung ke WLN dan sekaligus turun ke lokasi pengambilan sampel air di persimpangan sungai sawangan dan air sungai tondano
6. Mengikuti kegiatan sosialisasi tentang MIH (Menuju Indonesia Hijau) di BLH SULUT pada tanggal 31 juli 2009

3.2 Identifikasi Masalah dan Metode yang digunakan
Berdasarkan hasil observasi dan dan analisa data dan laporan dari Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaan Limbah B3 di BLH Provinsi Sulawesi Utara, masalah yang ditemukan adalah tingginya konsentrasi parameter merkuri (Hg) di danau tondano.
Berdasarkan data dari Pemantauan Kualitas Air Danau Tondano tahun 2008, Kualitas Air Danau Tondano parameter Merkuri pemantauan selama 5 (lima) kali selang bulan Februari s/d Bulan November 2008, semua titik lokasi pantau melewati Baku Mutu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 yakni 0.002 Mg/l untuk Kelas II.
Hasil analisa konsentrasi merkuri dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4. Konsentrasi Merkuri Air Danau Tondano
No. Lokasi/Titik Pantau Baku Mutu Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Rata – rata
PP No. 82 Tahun 2001 Tahap
I Tahap
II Tahap III Tahap IV Tahap
V
1 Restoran Danau Tondano 0.002 0.00001 0.001 0.001 0.001 0.0005 0.000702
2 Desa Talikuran Kec. Romboken 0.002 0.001 0.0007 0.001 0.0015 0.0013 0.0011
3 Desa Tonelet Kec. Kakas 0.002 0.033 0.0006 0.002 0.0009 0.0008 0.00746
4 Desa Tasuka Kec. Eris 0.002 0.009 0.0005 0.0001 0.0008 0.014 0.0048
5 Desa Tandegan Kec. Eris 0.002 0.0005 0.0006 0.002 0.0009 0.0011 0.00102
6 Desa Toulour Kec. Tondano Timur 0.002 0.003 0.0008 0.002 0.00075 0.0009 0.00149
Sumber : Data Pemantauan Kualitas Air BLH Prov. Sulut 2008
Berdasarkan tabel diatas menunjukan rata-rata Kualitas Air Danau Tondano parameter Merkuri pemantauan selama 5 (lima) kali selang bulan Februari s/d Bulan November 2008 tertinggi berada di Desa Tonelet Kec. Kakas Kabupaten Minahasa yakni mencapai rata 0,00746 mg/l.
Mengingat air danau tondano banyak digunakan untuk proses kelangsungan hidup masyarakat sekitar yang digunakan sebagai sumber air minum, pertanian, maupun budi daya ikan, maka harus mendapatkan perhatikan serius dari berbagai pihak. Adanya berbagai dampak atau masalah tersebut menunjukkan upaya pengelolaan kualitas air perlu diprioritaskan sehingga dapat berfungsi optimal sesuai dengan peruntukannya.

3.3 Alternatif Pemecahan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, maka pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah :
1. Sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat yang mempergunakan merkuri dalam kegiatan pertambangan, industri, pertanian dan juga masyarakat sekitar danau tondano akan bahaya penggunaan merkuri
2. Melakukan sosialisasi pada industri pertambangan maupun industri lain tentang pengolahan limbah yang baik dan murah yaitu dengan menggunakan metode pengolahan limbah fitoremidiasi
3. Membina kerjasama lintas sektor baik dengan instansi pemerintah maupun swasta dalam memantau dan mengawasi kualitas air danau tondano secara berkala
4. Mengadvokasi pihak pemerintah dalam membuat peraturan – peraturan mengenai pengunaan merkuri dalam proses produksi

3.4 Kontribusi Bagi BLH Provinsi Sulawesi Utara dan Bagi Mahasiswa
3.4.1 Bagi BLH Provinsi Sulawesi Utara
Kontribusi bagi Instansi tempat magang dalam hal ini yaitu BLH Provinsi Sulawesi Utara dengan dilaksanakannya kegiatan magang diharapkan dapat menjadi masukan dalam membantu pengelolaan lingkungan hidup khususnya dalam pemantauan kualitas air, serta mendapatkan alternatif pemecahan masalah dalam pengelolaan maupun pemantauan kualitas air di Sulawesi Utara. Melalui kegiatan magang ini juga diharapkan dapat menciptakan kerjasama yang baik antara pihak BLH Provinsi Sulawesi Utara dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat.

3.4.2 Bagi Mahasiswa Peserta Magang
Manfaat yang di dapat selama mengikuti kegiatan magang yaitu :
– Memperoleh pengalaman yang dapat diaplikasikan berdasarkan bidang minat yaitu bidang kesehatan lingkungan.
– Memperoleh pengetahuan secara menyeluruh tentang bagaimana orientasi kerja di BLH Provinsi Sulawesi Utara.
– Memperoleh pengetahuan mengenai bagaimana situasi di tempat kerja nanti apabila telah bekerja.
BAB IV. PEMBAHASAN
Manusia dan Makhluk hidup lainnya tidak luput dalam penggunaan air dalam proses kehidupan, sehingga air dianggap begitu penting dalam menunjang proses kehidupan tersebut, oleh karena itu Pemerintah mengeluarkan Peraturan mengenai pengelolaan kualitas air dan pemantauan kualitas air, demi menjaga kelestarian ekosistem dan kepentingan generasi sekarang dan mendatang. Salah satu prosedur penting dalam proses pengelolaan kualitas air adalah melaksanakan pemantauan kualitas air secara kontinyu dan berkesinambungan.
Untuk menyusun suatu program pemantauan kualitas air diperlukan pengetahuan atau prinsip dasar tentang pemantauan lingkungan. Pemantauan lingkungan merupakan suatu kegiatan jangka panjang yang meliputi pengamatan dan pengukuran parameter lingkungan untuk tujuan tertentu, lokasi tertentu, waktu atau frekuensi tertentu serta parameter tertentu dengan metodologi tertentu, sehingga diketehui status kualitas dari lingkungan yang bersangkutan.
Mengingan Sumber air banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan seperti pembangkit tenaga listrik, sumber air minum (PDAM), pertanian, perikanan, peternakan. Maka BLH Prov. Sulut melakukan kegiatan pemantauan kualitas air danau tondano yang pemantauan selama 5 (lima) kali selang bulan Februari s/d bulan November 2008, dan pengambilan sampel dilakukan pada 6 (enam) titik pantau, yaitu :
1. Restoran Danau Tondano
2. Desa Talikuran Kec. Romboken
3. Desa Tonelet Kec. Kakas
4. Desa Tasuka Kec. Eris
5. Desa Tandegan Kec. Eris
6. Desa Toulour Kec. Tondano Timur
Dari hasil pemantauan untuk konsentrasi parameter merkuri semua titik pantau melewati baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 yakni 0.002 Mg/l untuk Kelas II dan rata – rata tertinggi terdapat di desa Tonelet Kec. Kakas yaitu 0.00746 Mg/l.

4.1 Definisi Merkuri
Merkuri atau raksa atau air raksa (latin: Hydrargyrum, air/cairan perak) adalah unsur kimia pada tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor atom 80. Unsur golongan logam transisi ini berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (bersama cesium, fransium, galium, dan brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar. Raksa banyak digunakan sebagai bahan amalgam gigi, termometer, barometer, dan peralatan ilmiah lain, walaupun penggunaannya untuk bahan pengisi termometer telah digantikan (oleh termometer alkohol, digital, atau termistor) dengan alasan kesehatan dan keamanan karena sifat toksik yang dimilikinya. Unsur ini diperoleh terutama melalui proses reduksi dari cinnabar mineral. Densitasnya yang tinggi menyebabkan benda-benda seperti bola biliar menjadi terapung jika diletakkan di dalam cairan raksa hanya dengan 20% volumenya terendam. (Zun Alfian, 2006)

4.2 Penggolongan Merkuri
Bentuk kimia merkuri mempunyai pengaruh terhadap pengendapannya. Secara umum ada tiga bentuk merkuri yaitu :
a. Unsur Merkuri (Hg0)
Mempunyai tekanan uap yang tinggi dan sukar larut di dalam air. Pada suhu kamar kelarutannya kira-kira 60 mg/l dalam air dan antara 5- 50 mg/l dalam lipida. Bila ada oksigen, merkuri diasamkan langsung ke dalam bentuk ionik. Uap merkuri hadir dalam bentuk monoatom (Hg). Saluran pernapasan merupakan jalan utama penyerapan unsur raksa dalam bentuk uap.
b. Merkuri Anorganik (Hg2+ dan Hg2 2+)
Di antara dua tahapan pengoksidaan, Hg2+ adalah lebih reaktif. Ia dapat membentuk kompleks dengan ligan organik, terutama golongan sulfurhidril. Contohnya HgCl2 sangat larut dalam air dan sangat toksik, sebaliknya HgCl tidak larut dan kurang toksik.
c. Merkuri Organik
Merkuri organik adalah senyawa merkuri yang terikat dengan satu logam karbon, contohnya metil merkuri. Metil merkuri merupakan merkuri organik yang selalu menjadi perhatian serius dalam toksikologi. Ini karena metil merkuri dapat diserap secara langsung melalui pernapasan dengan kadar penyerapan 80%. Uapnya dapat menembus membran paru-paru. Di dalam darah, 90% dari metil merkuri diserap ke dalam sel darah merah.
Merkuri biasanya terdapat dalam bentuk merkuri bebas (Hg+) dalam bentuk anorganik yang sering digunakan sebagai fungisida dan herbisida. Bentuk merkuri organik yaitu phenil merkuri,sementara metal merkuri dihasilkan oleh manusia dan dalam sedimen, Hg diabsorbsi oleh mikroorganisme dan akhirnya pada ikan. Proses metilasi dari merkuri pada sedimen oleh mikroorganisme terjadi pada pH rendah dan tergantng dari potensial redoks, komposisi populasi mikroorganisme, adanya Hg2+ dan suhu. Vitamin B12 disuga sebagai agen metilasi merkuri.
(Mukono H.J, Toksikologi Industri, 2005)

4.3 Manfaat Merkuri
Pemanfaatan logam merkuri pada saat ini sudah hampir mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Selama kurun waktu beberapa tahun, merkuri telah banyak digunakan dalam bidang kedokteran, pertanian, dan industri, dan. Dalam bidang kedokteran gigi misalnya merkuri digunakan sebagai campuran untuk bahan penambal gigi (amalgam), kemudian juga merkuri sebagai bahan untuk cairan Termometer. ( Christian et al., 1970)
Dalam bidang pertanian, merkuri digunakan untuk membunuh jamur sehingga baik digunakan untuk pengawet produk hasil pertanian. Merkuri organik juga digunakan untuk pembasmi hama pada tanaman seperti buah apel dan juga digunakan sebagai pembasmi hama padi.
Dalam bidang industri, terbanyak adalah pabrik alat-alat listrik yang menggunakan lampu-lampu merkuri untuk penerangan jalan raya. Hal ini disebabkan biaya pemasangan dan operasi yang murah dan arus listriknya dapat dialiri dengan voltase yang tinggi. Merkuri juga digunakan pada pembuatan baterai, karena baterai dengan bahan yang mengandung merkuri dapat tahan lama dan tahan terhadap kelembapan yang tinggi. Kemudian merkuri juga dipergunakan dalam industri cat sebagai salah satu bahan untuk membuat cat. Dan digunakan untuk untuk penambangan emas, yaitu pada saat pengolahan bijih emas.

4.4 Dampak Merkuri bagi Lingkungan dan Manusia
Kadar merkuri yang tinggi pada lingkungan perairan umumnya diakibatkan oleh buangan industri (industrial wastes) dan akibat sampingan dari penggunaan senyawa-senyawa merkuri di bidang pertanian. Merkuri dapat berada dalam bentuk metal, senyawa-senyawa anorganik dan senyawa organic.
Telah lama diketahui bahwa merkuri dan turunannya sangat beracun, sehingga kehadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air. Pengaruh toksisitas merkuri terhadap ikan dan biota perairan dapat bersifat lethal dan sublethal. Pengaruh lethal disebabkan gangguan pada saraf pusat sehingga ikan tidak bergerak atau bernapas akibatnya cepat mati. Pengaruh sub lethal terjadi pada organ-organ tubuh, menyebabkan kerusakan pada hati, mengurangi potensi untuk perkembangbiakan, pertumbuhan dan sebagainya. Selain itu pencemaran perairan oleh merkuri mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan terkumpul dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses bioaccumulation maupun biomagnification yaitu melalui food chain. Merkuri yang dapat diakumulasi adalah merkuri yang berbentuk methyl merkuri (CH3Hg), yang mana dapat diakumulasi oleh ikan, dan juga merupakan racun bagi manusia . (Syaputra Irwan, 2009)
Kasus keracunan metil merkuri pada orang, baik anak maupun orang dewasa, diberitakan secara besar-besaran pasca Perang Dunia ke-2 di Jepang, yang disebut sebagai “Minamata Disease” (Penyakit Minamata). Sistem saraf pusat adalah target organ dari toksisitas metil merkuri tersebut, sehingga gejala yang terlihat erat hubungannya dengan kerusakan saraf pusat.
Gejala yang timbul adalah sebagai berikut:
– Gangguan saraf sensoris: Paraesthesia, kepekaan menurun dan sulit menggerakkan jari tangan dan kaki, penglihatan menyempit, daya pendengaran menurun, serta rasa nyeri pada lengan dan paha.
– Gangguan saraf motorik: lemah, sulit berdiri, mudah jatuh, ataksia, tremor, gerakan lambat, dan sulit berbicara.
– Gangguan lain: gangguan mental, sakit kepala. Tremor pada otot merupakan gejala awal dari toksisitas merkuri tersebut.
Tetapi derajat berat atau ringannya toksisitas ini bergantung pada lama mengkonsumsi, dan umur dari penderita. Dengan demikian, semakin banyak dan semakin lama orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi metil merkuri per hari, maka semakin berat gejala terjadinya penyakit karena toksisitas metil merkuri tersebut. Di samping itu, anak-anak lebih peka terhadap toksisitas metil merkuri ini daripada orang dewasa.
Karena sifatnya yang beracun maka pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menetapkan kriteria mutu untuk setiap kelas air dan dimana kadar Hg maksimum yang diziinkan untuk berada dalam badan air adalah 0,002 mg/l (untuk kriteria air kelas 2).
Merkuri selain mempunyai manfaat yang besar juga mempunyai dampak yang negatif terhadap manusia dan alam. Merkuri merupakan logam yang sangat beracun dan berbahaya terhadap organisme, dalam penggunaan atau aktivitas tertentu merkuri akan disebarkan ke lingkungan baik berupa bahan pertanian, obat-obatan, cat, kertas, pertambangan serta sisa buangan industri. Semua bentuk merkuri, baik dalam bentuk unsur, gas maupun dalam bentuk garam merkuri organik adalah beracun. (Stefanus Richard M. ST)

4.5 Pencegahan Bahaya Merkuri
Berdasarkan alternatif pemecahan masalah maka tingkat pencegahan dapat dilakukan dengan :
1. Sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat yang mempergunakan merkuri dalam kegiatan pertambangan, industri dan juga masyarakat sekitar danau tondano akan bahaya penggunaan merkuri. Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat lebih jelas lagi mengetahui apa bahaya yang akan ditimbulkan dari penggunaan merkuri ini sehingga dapat menyadarkan mereka untuk tidak mempergunakan merkuri. Melakukan sosialisasi pada industri pertambangan maupun industri lain tentang pengolahan limbah yang baik. Ini bertujuan supaya limbah hasil produksi dapat diolah, agar supaya limbah yang dibuang tidak mencemari lingkungan sekitar dan mengharuskan setiap industri – industri mengunakan metode pengolahan limbah fitoremidiasi, yaitu metode pencegahan pencemaran polutan berbahaya seperti logam berat, senyawa organik dan lain dalam tanah atau air dengan menggunakan bantuan tanaman (hiperkomulator plant). Proses fitoremediasi yaitu:
– Phytoacumulation : tumbuhan menarik zat kontaminan sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan
– Rhizofiltration : proses adsorpsi / pengendapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar.
– Phytostabilization : penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan
– Rhyzodegradetion : penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba
– Phytodegradation : penguraian zat kontamin
2. Membina kerjasama lintas sektor baik dengan instansi pemerintah maupun swasta dalam memantau dan mengawasi kualitas air danau tondano secara berkala. Adapun Kerja sama yang dijalin antara BLH dan dinas terkait yaitu kesamaan program dalam melaksanakan pemantaua kualitas air agar dapat terkontrol kualitas air danau tondano setiap waktu
3. Mengadvokasi pihak pemerintah dalam membuat peraturan – peraturan mengenai pengunaan merkuri dalam proses produksi. Ini bertujuan agar pemerintah lebih tegas lagi dalam membuat aturan mengenai penggunaan bahan kimia berbahaya untuk proses produksi dan memberiksan sanksi yang berat pada industri yang melanggarnya
Sehingga untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan terjadi kepada manusia dan lingkungan maka merkuri sebaiknya digunakan dengan bijaksana karena penggunaan merkuri dengan bijak akan meminimalisir dampak yang bisa diakibatkan oleh merkuri tersebut, kemudian apabila merkuri tersebut akan dibuang ke lingkungan seharusnya konsentrasi merkuri tidak melebihi ambang batas yang bisa diterima oleh lingkungan.

BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil kegiatan magang dapat disimpulkan bahwa :
1. Masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya dari penggunaan merkuri
2. Penyelengaraan pemantauan kualitas air danau tondano masih belum optimal dan belum terkontrol dengan baik
3. Kurangnya sosialisasi kepada industri, pertanian, pertambangan dalam pengolahan limbah merkuri
4. Masih kurang ketat dan tegas pemerintah dalam membuat peraturan larangan penggunaan merkuri. .
5.2 Saran
Dalam upaya mengatasi permasaalahan pencemaran air khususnya di danau tondano, maka saran yang dapat diberikan :
1. Melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar danau tondano akan bahaya dari penggunaan merkuri
2. Pemantauan kualitas air danau tondano sebaiknya dilakukan terus menerus agar kualitas air dapat dikontrol setiap tahunnya
3. Mengharuskan kepada setiap perusahaan agar menggunakan metode fitoremidiasi dalam pengolahan limbahnya disamping metode yang lain.
4. Melakukan pelatihan penangulangan pencemaran limbah B3 kepada masyarakat maupun instansi di bidang Lingkungan Hidup di bawah Badan Lingkungan Hidup Prov. Sulut
5. Agar lebih ketat lagi dalam pemeriksaan bahan berbahaya di setiap industri – industri yang sudah ada maupun dalam membangun.

DAFTAR PUSTAKA
Christian G.D, FJ Feldeman. Atomic Absobsion Spectrscopy Application in Agriculture, Biology and Medicine Inc, New York, 1970 :360
Badan Lingkunga Hidup Provinsi Sulawesi Utara. 2009. Rencana Kerja (RENJA) Tahun 2009. Manado. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Prov. SULUT
Bidang Pengendaliaan Pencemaran Lingkungan dan Pengelolaaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 2009. Rencana Operasional Kerja (ROK), Pelaksanaan Kegiatan Bidang Pemulihan Tahun 2009. Manado : Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara
Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2009. Panduan Pelaksanaan Magang. Manado
Mukono, H.J, 2005. Prinsip dasar Kesehatan Lingkungan . Surabaya : Airlangga University
Stefanus Richard M. ST. 2009. Merkuri : Manfaat dan Bahayanya bagi Lingkungan dan Manusia (Online) http://kimiadahsyat.blogspot.com/2009/07/bahaya-merkuri-pada-manusia.html diakses tanggal 25 september 2009
Sub Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan dan Sub Bidang Pengelolaan Limbah B3. 2008. Rencana Operasional Kerja (ROK), Pelaksanaan kegiatan pemantuan kualitas air sungai tondano, danau tondano, sungai ongkak dumoga. Manado Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi SULUT
Syaputra Irwan. 2009. Toksisitas dan transformasi merkuri. (Online) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/khelasi-merkuri/toksisitas_dan_transformasi_merkuri/ diaskes tanggal 25 september 2009
Zun Alfian. 2006. Merkuri: Antara Manfaat dan Penggunaanya Bagi Kesehatan Manusia dan Lingkungan. Medan : Universitas Sumatera Utara

About kristonimala

studing in Public Health Faculty of Unsrat...
This entry was posted in Magang. Bookmark the permalink.

3 Responses to Magang Di BLH Prov. SULUT

  1. Indra Wahyudianto says:

    Thanks…
    it’s very helfull…

  2. kristonimala says:

    tngQu bro….
    klo ada info ato artikel yg bagus,,,jgn lupa shar2 yac….

  3. Arianto sarimbangun says:

    Tnks for lprnx,,, untuk tmbh wawsn……

    chayoooo….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s